Mental Health dalam data Quran Hadits: Yang Diobati Ternyata Bukan Pikiran, Tapi Qolbu
Pertanyaan yang hampir selalu muncul saat orang membicarakan kesehatan mental: apa tanda seseorang benar-benar sehat batinnya? Jawaban yang paling sering terdengar adalah: hidupnya tenang, tidak cemas, tidak pernah stres. Lalu, diam-diam, muncul asumsi kedua yang lebih tajam: kalau kamu masih gelisah, berarti imanmu belum kuat.
Dua asumsi itu terasa masuk akal. Tapi keduanya bertabrakan dengan apa yang saya temukan ketika menelusuri Al-Quran, hadits, dan Ihya Ulumuddin. Mari kita mulai dari yang paling mengejutkan.
Manusia Diciptakan dalam Keadaan Gelisah
Ayat yang paling sering dilewatkan dalam diskusi kesehatan mental adalah QS. Al-Ma'aarij 70:19-22:
"Sesungguhnya manusia diciptakan (dengan sifat) mudah gelisah. Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mendirikan shalat."
Perhatikan satu kata: diciptakan.
Kegelisahan bukan penyakit yang menimpa orang-orang beriman lemah. Ia bagian dari cetakan asli manusia. Bahkan digambarkan dua arahnya: gelisah ketika susah karena takut menderita, dan gelisah ketika senang karena takut kehilangan. Ini gambaran psikologis yang sangat akurat: kecemasan adalah bawaan manusia, bukan aib.
Kalau masih ragu, lihat QS. Al-Baqoroh 2:260.
Nabi Ibrahim, seorang nabi dan kekasih Allah, meminta dengan jujur:
"Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati."
Ketika Allah bertanya,
"Belum percayakah engkau?"
Ibrahim menjawab:
"Aku percaya, tetapi agar qolbuku tenang (mantap)."
Nabi Ibrahim pun butuh ketenangan qolbu. Kebutuhan akan kepastian batin ternyata bukan tanda kurang iman. Ia kebutuhan manusiawi yang sah, dan Allah langsung menjawabnya.
Bukti sejarahnya bahkan lebih gamblang. Dalam HR. Musnad Ahmad ibn Hanbal 1:20, Utsman bin Affan bercerita bahwa setelah Rasulullah wafat, sebagian sahabat bersedih sedemikian dalam hingga hampir membuat sebagian mereka was-was. Utsman sendiri mengaku termasuk di dalamnya. Kesedihannya begitu memenuhi pikiran sampai ia tidak menyadari Umar bin Khattab lewat dan memberi salam kepadanya.
Sahabat paling utama nyaris jatuh ke dalam was-was karena duka. Jika itu bukan bukti bahwa krisis batin tidak bertentangan dengan keimanan, sulit mencari bukti lain.
Tenang Bukan Berarti Bebas Ujian
Asumsi kedua yang perlu diluruskan: ketenangan disamakan dengan hidup tanpa masalah.
Padahal QS. Al-Baqoroh 2:155 menyebut ujian batin sebagai kepastian:
"Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan."
Perhatikan urutannya: ketakutan dan kehilangan jiwa, yaitu orang-orang tercinta, disebut paling depan. Itu persis dua sumber utama kecemasan dan kesedihan yang dalam.
Namun ayat yang sama ditutup dengan kalimat yang sering dilupakan:
"Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar."
Ujian tidak pernah dijanjikan hilang. Yang dijanjikan adalah kabar gembira bagi yang sabar.
Ketenangan dalam Islam bukan kondisi tanpa badai, melainkan kemampuan tetap stabil di tengah badai.
Maka definisi ketenangan yang sesungguhnya ada di QS. Ar-Ro'd 13:28:
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah qolbu menjadi tenang."
Kata yang dipakai adalah thuma'ninah. Bukan sekadar rileks, melainkan ketenteraman yang menetap dan mantap.
Dzikir bekerja seperti terapi: memutus siklus pikiran yang berputar-putar dengan mengarahkan kesadaran kepada Zat Yang Maha Mengatur.
Dan QS. Asy-Syarh 94:5-6 menambahkan harapan:
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Kalimat itu bahkan diulang dua kali, sebagai jaminan bahwa tidak ada krisis tanpa jalan keluar.
Tawakal Bukan Pasrah
Tawakal sering dipahami sebagai menyerah.
Padahal dalam urusan batin, tawakal adalah mekanisme penyembuhan yang paling halus.
Lihat HR. Sunan Abu Dawud 8:3411:
"Thiyarah (meramal nasib buruk) adalah syirik... Tidaklah seorang pun dari kita kecuali pernah merasakannya, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal."
Kalimat ini menakjubkan.
Nabi mengakui bahwa firasat buruk, perasaan akan celaka, dan kecenderungan melihat pertanda sial adalah pengalaman manusiawi.
Beliau tidak menyalahkan perasaan itu.
Beliau memberi obatnya: tawakal.
Dalam bahasa sederhana, tawakal mengganti keyakinan yang keliru dengan keyakinan yang benar. Ia memindahkan pusat kendali dari kekhawatiran diri kepada Allah.
Formula singkatnya ada di QS. Az-Zumar 39:38:
"Cukuplah Allah bagiku."
Satu kalimat afirmasi yang mematahkan siklus cemas akan masa depan.
Dan QS. Ibroohiim 14:12 menunjukkan bahwa tawakal selalu berdampingan dengan kesabaran: pasrah kepada hasil, tetapi tetap teguh dalam proses.
Pusat Kesehatan Mental Ada di Qolbu
Ilmu psikologi modern memusatkan perhatian pada otak, kognisi, dan kimia saraf.
Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali menunjuk organ yang berbeda: qolbu.
Dalam Ihya - Kitab Uraian Keajaiban Hati, Al-Ghazali menulis bahwa manusia mengenal Allah dengan qolbunya; anggota badan hanyalah pengikut dan pelayan qolbu.
"Qolbu itulah yang berbahagia dengan dekat kepada Allah. Ia memperoleh kemenangan apabila disucikan, dan memperoleh kekecewaan serta kesengsaraan apabila dikotori dan dirusak."
Kesehatan jiwa, dalam kerangka ini, adalah kondisi qolbu.
Di Ihya - Kitab Uraian Keajaiban Hati (lanjutan), Al-Ghazali mengutip QS. Al-Hasyr 59:19:
"Mereka yang lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka kepada diri mereka sendiri."
Lupa kepada Allah dan lupa kepada diri sendiri ternyata satu penyakit yang sama.
Orang modern menyebutnya depersonalisasi, yaitu perasaan terasing dari diri sendiri.
Al-Ghazali menyebutnya, sembilan abad lebih awal, sebagai akibat keterputusan dari Allah.
Ia juga menggambarkan qolbu yang bolak-balik: kadang merosot sejajar dengan setan-setan, kadang naik ke alam malaikat. Sebuah penggambaran fluktuasi suasana batin yang sangat realistis.
Kekuatan Sejati Tidak Pernah Sendirian
Kembali ke kisah Utsman dalam HR. Musnad Ahmad ibn Hanbal 1:20.
Ketika Utsman tenggelam dalam duka dan nyaris was-was, Umar sempat salah menafsirkannya sebagai kesombongan.
Tetapi Abu Bakar membaca keadaannya dengan tepat:
"Utsman benar, sungguh kamu telah disibukkan oleh suatu urusan."
Lalu Abu Bakar memberikan jawaban yang menenangkan qolbunya. Kalimat tauhid yang pernah ditawarkan Nabi kepada pamannya menjadi jalan keselamatan.
Ada tiga lapis penyembuhan dalam satu kisah:
- Kesadaran bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
- Kehadiran orang lain yang peduli.
- Jawaban iman yang menenangkan.
Tidak satu pun yang bisa dibuang.
"Kamu harus kuat sendiri" ternyata hanyalah mitos.
Bahkan was-was yang berlebihan dalam ibadah pun, sebagaimana dicatat dalam Ihya - Kitab Ilmu, disebut Al-Ghazali sebagai perilaku yang harus diobati, bukan dibiarkan tumbuh.
Tiga Koneksi
Jadi apa sebenarnya kesehatan mental dalam perspektif Al-Quran, hadits, dan Ihya Ulumuddin?
Bukan ketiadaan masalah.
Bukan ketiadaan emosi negatif.
Bukan pula kekuatan untuk sendirian.
Ia adalah tiga koneksi yang dijaga secara bersamaan.
Pertama, koneksi vertikal: dzikir dan shalat sebagai penenang dasar kegelisahan.
- QS. Ar-Ro'd 13:28
- QS. Al-Ma'aarij 70:19-22
Kedua, regulasi diri: sabar untuk menstabilkan emosi dan tawakal untuk meluruhkan kecemasan.
- QS. Al-Baqoroh 2:153
- HR. Sunan Abu Dawud 8:3411
Ketiga, koneksi horizontal: ukhuwah dan kehadiran orang lain sebagaimana dicontohkan Abu Bakar dan Umar, serta perawatan qolbu sebagaimana diajarkan Al-Ghazali.
- HR. Musnad Ahmad ibn Hanbal 1:20
- Ihya - Kitab Uraian Keajaiban Hati
Dan satu hal terakhir.
Sumber-sumber ini tidak pernah menolak ikhtiar lahiriah.
Kesehatan batin yang baik justru adalah keberanian mencari pertolongan: kepada Allah, kepada ilmu, dan kepada sesama.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqoroh 2:62:
"Tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
Bukan karena hidup mereka tanpa masalah.
Tetapi karena mereka tahu ke mana harus bersandar.